Cuteki kawaii

Welcomeee..... !!!!!!!!!! :)) :)) :))

this is my note, share for everyone . . . . .

Sabtu, 29 Oktober 2011

kajian puisi pendekatan struktural

KAJIAN PUISI INDONESIA DENGAN PENDEKATAN STRUKTURAL
“Perempuan-perempuan Perkasa karya Hartoyo Andangjaya, 1973”
oleh Dea Triani Rachmawati (1002652)


            Perempuan-perempuan Perkasa
            Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
                        dari manakah mereka
            Ke setasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
            sebelum peluit kereta api terjaga
            sebelum hari bermula dalam pesta kerja.
            Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta,
                        ke manakah mereka
            Di atas roda-roda baja mereka berkendara
            Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota
            merebut hidup di pasar-pasar kota.
            Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
                        siapakah mereka
            akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
            Mereka: cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa.

                                    Hartoyo Andangjaya, 1973.







Pendekatan struktural adalah suatu metode atau cara pencarian terhadap suatu fakta yang sasarannya tidak hanya ditujukan kepada salah satu unsur sebagai individu yang berdiri sendiri di luar kesatuannya, melainkan ditujukan pula kepada hubungan antar unsurnya.
Struktural merupakan keseluruhan yang bulat, yaitu bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktural itu.
Pendekatan struktural digunakan untuk menghasilkan gambaran yang jelas terhadap diksi, citraan, bahasa kias, majas, sarana retorika, bait dan baris, nilai dan bunyi, persajakan, narasi, emosi, dan ide yang digunakan pengarang dalam menulis puisinya.
Dilihat dari strukturnya puisi memiliki dua unsur struktur yang berada dalam satu kesatuan, yaitu: struktur fisik dan struktur batin yang seringkali disebut dengan nama metode puisi dan hakikat puisi, sebagaimana yang akan dikaji dalam puisi “Perempuan-perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andangjaya, 1973.

A.  Metode Puisi (Struktur Fisik)
Unsur-unsur bentuk atau unsur fisik puisi dapat diuraikan dalam metode puisi, yakni
unsur estetik yang membangun struktur luar puisi. Unsur-unsur itu dapat ditelaah satu persatu, tetapi unsur-unsur itu merupakan kesatuan yang utuh. Unsur-unsur itu ialah: diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif (majas), versifikasi, dan tata wajah puisi.

1.    Diksi (Pemilihan Kata)
Diksi merupakan pemilihan kata, penyair dalam memilih kata dengan cermat juga
harus mempertimbangkan maknanya, urutan katanya, kekuatan atau daya magis dari kata-kata tersebut. Kata-kata diberi makna yang baru dan yang tidak bermakna diberi makna sendiri oleh penyair, sehingga kata-kata yang sudah dipilih oleh penyair tidak boleh asal diganti dengan kata lain karena akan merubah makna yang hendak disampaikan. Sebagai contoh puisi di atas perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka tidak bisa diganti menjadi dari manakah mereka, perempuan-perempuan yang di pagi buta membawa bakul, kata-kata dalam baris itu tidak boleh dibolak-balik, karena penggantian urutan kata-kata akan merusak konstruksin puisi itu sehingga kehilangan daya gaib yang ada di dalam puisi. Selanjutnya akan dibahas perbendaharaan kata, urutan kata-kata, dan sugesti dari kata-kata.

a.    Perbendaharaan kata
Perbendaharaan kata penyair di samping sangat penting untuk kekuatan ekspresi,
juga menunjukkan ciri khas penyair. Dalam memilih kata-kata, di samping penyair memilih berdasarkan makna yang akan disampaikan dan tingkat persaan dan suasana batinnya, juga dilatarbelakangi oleh faktor social budaya penyair. Maka penyair satu berbeda dengan penyair lainnya. Perbedaan kedaerahan, suku, agama, pendidikan, jenis kelamin, dan sebagainya menghasilkan puisi yang berbeda pula. Suasana perasaan penyair juga menentukan pilihan kata. Intensitas perasaan penyair, kadar emosi, cint, benci, rindu, dan sebagainya menentukan pemilihan kata.
                        Dalam puisi Perempuan-perempuan Perkasa ini jelas terlihat bahwa penyair menggunakan kata-kata yang sederhana meskipun ada kata-kata yang sudah bermakna diberi makna lain, seperti kata terjaga dalam baris sebelum peluit kereta api terjaga yang sebelumnya terjaga berartikan dijaga dengan baik dan ketika dimasukkan dalam baris puisi di atas menjadi memiliki makna lain yaitu sebelum bunyi kereta api dibunyikan yang menandakan akan segera berjalan. Kata peluit di atas juga memiliki makna baru yang berarti suara kereta api sebagai tanda bahwa kereta akan segera berangkat yang pada awalnya peluit hanya berartikan sesuatu yang bila ditiup akan menghasilkan bunyi.
b.    Urutan kata (Word Order)
Dalam puisi, urutan kata bersifat beku artinya urutan itu tidak dapat dipindah-
pindahkan tempatnya meskipun maknanya tidak berubah oleh perpindahan itu. Cara menyusun urutan kata-kata itu bersifat khas karena penyair yang satu berbeda caranya dari penyair yang lainnya. Dapat pula dinyatakan bahwa ada perbedaan teknik menyusun urutan kata, baik urutan dalam baris maupun urutan dalam suatu bait puisi. Dan Hartoyo Andangjaya dalam puisinya di atas yang dalam keadaan bangga meskipun terlihat menyedihkan menuliskan,
                       
Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta,
                                    ke manakah mereka
                        Di atas roda-roda baja mereka berkendara
                        Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota
                        merebut hidup di pasar-pasar kota.
                        Susunan kata-kata di atas tidak dapat diubah walau perubahan itu tidak mengubah makna. Penyair telah memperhitungkan secara matang susunan kata-kata itu. Jika diubah urutannya, maka daya magis kata-kata itu akan hilang. Keharmonisan antarbunyi yang terdapat di dalamnya akan terganggu karena susunan kata tersebut menimbulkan efek psikologis. Jika kalimat di atas roda-roda baja mereka berkendara diganti menjadi mereka berkendara di atas roda-roda baja, maka nada haru akan berkurang, juga dalam kalimat Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota, merebut hidup di pasar-pasar kota, diubah menjadi di pasar-pasar kota mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota merebut hidup, maka nada mebanggakan sekaligus mengharukan akan semakin berkurang.
c.    Daya sugesti kata-kata
Dalam memilih kata-kata, penyair mempertimbangkan daya sugesti kata-kata itu.
Sugesti ini ditimbulkan oleh makna kata yang dipandang sangat tepat mewakili perasaan penyair. Karena ketepatan pemilihan dan ketepatan penempatannya, maka kata-kata itu seolah memancarkan daya gaib yang mampu memberikan sugesti kepada pembaca untuk ikut sedih, terharu, bersemangat, marah, dan sebagainya.
              Dalam puisi di atas, Hartoyo Andangjaya ingin menyampaikan rasa terharunya melalui kata-kata,
              Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta,
                        ke manakah mereka
              Di atas roda-roda baja mereka berkendara
              Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota
              merebut hidup di pasar-pasar kota.
              dengan pemilihan kata-kata di atas penyair dapat memberikan sugesti kepada pembanya untuk merasakan haru juga menyedihkan, tetapi segera ditambahkan lagi dalam baris selanjutnya,
             
              Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
                        siapakah mereka
              akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
              Mereka: cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa.
              yang maksud penyair ingin memberikan sugesti mengharukan tetapi kagum dan bangga juga terhadap perempuan-perempuan yang tiap paginya harus jauh-jauh jalan menuju pasar untuk berjualan menghidupi kehidupan desa-desa.

2.    Pengimajian
Ada hubungan erat antara diksi, pengimajian, dan kata konkret. Diksi yang dipilih harus
menghasilkan pengimajian dan karena itu kata-kata menjadi lebih konkret seperti kita hayati melalui penglihatan, pendengaran, atau cita rasa. Pengimajian dapat dibatasi dengan pengertian: kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Baris-baris puisi itu seolah mengandung gema suara (auditif), benda yang nampak (imaji visual), atau sesuatu yang dapat kita rasakan, raba atau sentuh (imaji taktil).
              Dalam puisi di atas penyair melukiskan kerja perempuan-perempuan yang dikagumi itu dengan imaji visual sebagai berikut:
                        Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
                        Ke setasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
              di sana, penyair mengirimkan sesuatu benda yang nampak (imaji visual) yang dengan maksud ingin melukiskan imaji penglihatan (visual), maka puisi itu seolah-olah melukiskan sesuatu yang bergerak-gerak.

3.    Kata Konkret
Untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca, maka kata-kata harus
diperkonkret. Maksudnya ialah bahwa kata-kata itu dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh. Seperti halnya pengimajian, kata yang diperkonkret ini juga erat hubungannya dengan penggunaan kiasan dan lambang. Jika penyair mahir memperkonkret kata-kata, maka pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasa apa yang dilukiskan penyair. Dengan demikian pembaca terlibat penuh secara batin ke dalam puisinya.
              Dalam puisi di atas dipilih kata-kata yang berisi sikap kagum penyair kepada “perempuan-perempuan perkasa”. Untuk menunjukkan rasa kagum itu, penyair tidak cukup dengan penyebutan perempuan perkasa untuk memperkonkret gambaran dalam pikiran pembaca, penyair menggunakan pengimajian berupa ungkapan perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta. Untuk menunjukkan kendaraan bagi perempuan-perempuan itu secara konkret, penyair menggunakan pengimajian dengan akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota.

4.    Bahasa Figuratif (Majas)
Penyair menggunakan bahasa yang bersusun-susun atau berpigura sehingga disebut
bahasa figuratif. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figurative adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang.
1)   Kiasan (Gaya Bahasa)
Kiasan yang dimaksud di sini mempunyai makna lebih luas dengan gaya bahasa
kiasan karena mewakili apa yang secara tradisional disebut gaya bahasa secara keseluruhan. Dalam gaya bahasa, suatu hal dibandingkan dengan hal lainnya. Tujuan penggunaan kiasan ialah untuk menciptakan efek lebih kaya, lebih efektif, dan lebih sugestif dalam bahasa puisi. Banyak kita jumpai kiasan tradisional yang kita sebut gaya bahasa, hanya yang menonjol dalam puisi di atas adalah Personifikasi, yaitu: keadaan atau peristiwa alam sering dikiaskaan sebagai keadaan atau peristiwa yang dialami oleh manusa. Dalam hal ini benda mati dianggap sebagai manusia atau pesona, atau di personifikasikan. Hal ini digunakan untuk meperjelas penggambaran peristiwa dan keadaan itu yang ada kaitannya dengan kata-kata sugestif sehingga dapat memberikan penggambaran yang jelas dan apa yang hendak disampaikan penyair dapat memberikan sugesti yang pasti pada pembaca.
     Dalam puisi di atas, ada kata-kata akar yang melata yang dimaksudkan asal
perempuan-perempuan itu, berlomba dengan surya yang berarti perempuan-perempuan itu cepat-cepat menuju pasar agar tidak kesiangan kedahuluan oleh matahari.
2)   Perlambangan
Seperti halnya kiasan, perlambangan digunakan penyair untuk memperjelas makna
dan membuat nada dan suasana sajak menjadi lebih jelas, sehingga dapat menggugah hati pembaca. Jika dalam kiasan sesuatu hal dibandngkan dengan hal lain maka dalam perlambangan, sesuatu hal diganti atau dilambangkan dengan hal lain. Kata-kata dari kehidupan sehari-hari belum cukup untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan kepada pembaca oleh pengarang. Oleh sebab itu, diperlukan penggantian dengan benda lain. Penyair merasa bahwa dengan simblisasi itu makna akan lebih hidup, lebih jelas, dan lebih mudah dibayangkan oleh pembaca. Lambang dan kiasan ikut memberikan sugesti pada kata-kata itu.
a.       Lambang benda
Perlambangan juga dapat dilakukan dengan menggunakan nama benda untuk
menggantikan sesuatu yang ingin diucapkan oleh penyair. Dalam puisi di atas, terdapat kata-kata peluit kereta api yang melambangkan bunyi kereta api yang menandakan akan berangkatanya kereta api itu, ada lagi kata-kata roda-roda baja yang juga mengacu pada kereta api, ada lagi kalimat yang berisi akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota yang bermaksud menyatakan darimana perempuan-perempuan itu berasal, dan cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa kalimat itu juga merupakan perlambangan yang berarti bahwa perempuan-perempuan itu merupakan penopang bagi kehidupan masyarakat desa-desa di daerah tersebut.
b.      Lambang bunyi
Bunyi yang diciptakan oleh penyair juga melambangkan perasaan tertentu.
Perpaduan bunyi-bunyi akan menciptakan suasana yang khusus dalam sebuah puisi. Penggunaan bunyi sebagai lambang ini erat hubungannya dengan rima. Di samping itu, pelambangan bunyi juga erat kaitannya dengan diksi. Waktu memilih kata-kata, salah satu faktor yang diperhatikan adalah faktor bunyi yang padu, bunyi yang melambangkan sesuatu.
       Dalam puisi di atas, untuk menciptakan suasana yang haru dan sedih Hartoyo
Andangjaya menggunakan bunyi-bunyi /a/ yang dipadu dengan /i/ atau pun /u/ juga /o/. Bunyi-bunyi /f/, /v/, /s/ hamper tidak ada karena bunyi-bunyi tersebut mengurangi keharuan dalam puisi tersebut.
c.       Lambang Suasana
Suatu suasana dapat dilambangkan pula dengan suasana lain yang dipandang
lebih konkret. Lambang suasana ini biasanya dilukiskan dalam kalimat atau alinea. Dengan demikian yang diwakili adalah suatu suasana dan bukan hanya suatu peristiwa sepintas saja. Dalam puisi di atas, ada sebait kalimat yang melukiskan suasana haru tapi mengagumkan dengan usaha yang dilakukan oleh perempuan-perempuan itu dalam menjalani kehidupan.
                        Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta,
                        ke manakah mereka
              Di atas roda-roda baja mereka berkendara
              Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota
              merebut hidup di pasar-pasar kota.
                       
5.    Versifikasi (Rima, Ritma)
a.       Rima
Pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas atau orkestrasi.
Dengan pengulangan bunyi itu, puisi menjadi merdu jika di baca. Untuk mengulang bunyi ini, penyair juga mempertimbangkan lambang bunyi. Dengan cara ini, pemilihan bunyi-bunyi mendukung perasaan dan suasana puisi.
a)    Bentuk intern pola bunyi
Menurut Boulton, yang dimaksud bunyi internal ini adalah aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi (kata), dan sebagainya. Jika aliterasi merupakan persamaan bunyi pada suku kata pertama, asonansi merupakan ulangan bunyi vokal pada kata-kata tanpa selingan persamaan bunyi konsonan. Dan dalam puisi di atas, kita jumpai asonansi.

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta,
             dari manakah mereka
Ke setasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta api terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja.
Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta,
             ke manakah mereka
Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota.
b)   Pengulangan kata/ungkapan
Pengulangan tidak hanya terbatas pada bunyi, namun mungkin kata-kata
                      atau ungkapan. Boulton mengatakan bahwa pengulangan
                      bunyi/kata/frasa memberikan efek intelektual dan efek magis yang murni.
Dalam puisi “Perempuan-perempuan Perkasa” di atas terdapat pengulangan ungkapan “dari manakah mereka”. “ke manakah mereka”, dan “siapakah mereka” yang mengesankan efek analitik atau efek intelektual.
b.      Ritma
Ritma sangat berhubungan dengan bunyi dan juga berhubungan dengan
pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Ritma berasal dari bahasa Yunani rheo yang berarti gerakan-gerakan air yang teratur, terus menerus, dan tidak putus-putus (mengalir terus). Slametmuljana mengatakan bahwa ritma merupakan pertentangan bunyi: tinggi/rendah, panjang/pendek, keras/lemah, yang mengalun dengan teratur dan berulang-ulang sehingga membentuk keindahan. Puisi “Perempuan-perempuan Perkasa” ada pengulangan kalimat Perempuan-perempuan yang membawa bakul juga dari manakah mereka, ke manakah mereka, siapakah mereka yang membuat puisi itu begitu padu dan memperindah puisi tersebut.

6.    Tata Wajah (Tipografi)
Tipografi merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa dan drama.
Larik-larik puisi tidak membangun periodisitet yang disebut paragraph, namun membentuk bait. Baris puisi tidak bermula dari tepi kiri dan berakhir ke tepi kanan baris. Tepi kiri atau tepi kanan dari halaman yang memuat puisi belum tentu terpenuhi tulisan, hal mana tidak berlaku bagi tulisan yang membentuk prosa. Ciri yang demikian menunjukkan eksistensi sebuah puisi.
              Tipografi puisi ini adalah tipografi puisi konvensional, artinya tidak menyimpang dari tipografi puisi pada umunya. Baris-baris dimulai agak ke tengah hanyalah merupakan tanda bahwa baris tersebut kelanjutan dari baris sebelumnya. Puisi ini terdiri atas tiga bait. Tiap-tiap barit diikat dengan frasa /Perempuan-perempuan yang membawa bakul…/. Ikatan itu membentuk ritma puisi. Jawaban atas ikatan itu merupakan perkembangan gagasan dalam tiga bait itu, yakni : /dari manakah mereka/, /ke manakah mereka/, dan /siapakah mereka/. Klimaks puisi ini terletak pada bait ketiga karena bait ini menjawab siapakah perempuan-perempuan perkasa ini, yakni pejuang desa yang ulet yang memberi nafkah bagi keluarganya.


B.   Hakikat Puisi (Struktur Batin)
Struktur batin puisi adalah medium untuk mengungkapkan makna yang hendak
disampaikan penyair. I.A. Richards menyebut makna atau struktur batin itu dengan istilah hakikat puisi. Ada empat unsur hakikat puisi, yakni: tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention). Keemapat unsur itu menyatu dalam wujud penyampaian bahasa penyair.

1.    Tema (sense)
Tema merupakan gagasan pokok atau subject-matter yang dikemukakan oleh penyair.
Pokok pikiran atau pokok persoalan begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Jika desakan yang kuat itu berupa hubungan antara penyair dengan Tuhan, maka puisinya bertema ketuhanan. Jika desakan yang kuat berupa rasa belas kasih atau kemanusiaan, maka puisi tersebut bertema kemanusiaan. Jika yang kuat adalah dorongan untuk memprotes ketidakadilan, maka tema puisinya adalah protes atau kritik social. Perasaan cinta atau patah hati yang kuat juga dapat melahirkan tema cinta atau tema kedukaan hati karena cinta.
              Puisi di atas ini bertemakan kemanusiaan. Tema kemanusiaan beraksud menunjukkan betapa tingginya martabat manusia dan bermaksud meyakinkan pembaca bahwa setiap manusia memiliki harkat (martabat) yang sama. Perbedaan kekayaan, pangkat, dan kedudukan seseorang, tidak boleh menjadi sebab adanya pembedaan perlakuan terhadap kemanusiaan seseorang.Para penyair memiliki kepekaan perasaan yang begitu dalam untuk memperjuangkan tema kemanusiaan. Dalam puisi “Perempuan-perempuan Perkasa” ini penyair bermaksud untuk menyampaikan perasaan pekanya terhadap ibu-ibu yang tiap harinya berjuang menghidupi orang-orang di pasar kota, sekaligus penyair juga ingin menyampaikan perasaan bangganya terhadap perempuan-perempuan itu yang tidak pernah mengenal lelah. Sehingga diharapkan pembaca dapat merasakan apa yang dirasakan oleh penyair.

2.    Perasaan penyair (feeling)
Dalam menciptakan puisi, suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus
dapat dihayati oleh pembaca. Untuk mengungkapkan tema yang sama, penyair yang satu dengan perasaan yang berbeda dari penyair lainnya, sehingga hasil puisi yang diciptakan berbeda pula. Dalam menghadapi tema sosial atau kemanusiaan, penyair banyak menampilkan kehidupan pengemis atau orang gelandangan, tetapi berbeda dengan puisi Hartoyo Andangjaya ini yang lebih menampilkan sisi kemanusiaan dari perempuan-perempuan yang dalam hal ini merupakan ibu-ibu perkasa yang berjuang menghidupi keluarganya atau pun orang-orang dengan berjualan di pasar dengan penuh perjuangan. Perasaan penyair ini erat hubungannya dengan tema yang hendak disampaikan. Dengan begitu sikap penyair yang memeperlihatkan sisi kemanusiaan atau pekanya penyair terhadap kemanusiaan akan menghasilkan tema tentang kemanusiaan,

3.    Nada dan Suasana (tone)
Dalam menulis puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca, apakah dia
ingin bersikap menasehati, menggurui, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Sikap penyair kepada pembaca ini disebut nada puisi.
              Jika nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca, maka suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. Jika kita berbicara tentang sikap penyair, maka kita berbicara tentang nada; jika kita berbicara tentang suasana jiwa pembaca yang timbul setelah membaca puisi, maka kita berbicara tentang suasana. Nada dan suasana saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya.
              Nada dalam puisi di atas bersikap lugas hanya ingin menceritakan sesuatu kepada pembaca, tetapi terselip maksud bahwa nada yang ingin disampaikan adalah nada keprihatinan penyair sekaligus membanggakan terhadap perempuan-perempun yang tak kenal lelah berjuang menghidupi kehidupan manusia yang ada di desa-desa. Nada keprihatinan ini bersifat filosofis karena pembaca juga diharapkan merenungkan kehidupan yang terjadi pada perempuan-perempuan itu, sehingga kita juga memberikan penghargaan yang lebih kepada kegigihan mereka.
              Sehingga suasana pembaca juga diharapkan dapat merasakan sikap penyair dalam menyampaikan perasaannya di puisi tersebut. Pembaca dapat lebih merenungkan apa yang dimaksudkan penyair dalam puisinya yang menampilkan kepekaan terhadap mereka-mereka yang berjuang menghidupi orang-orang lainnya. Nada dan suasana ini juga berhubungan dengan tema dan feeling atau perasaan penyair. Dengan mengeluarkan perasaan pekanya terhadap masalah kemanusiaan lahirlah tema kemanusiaan dan dimunculkan dengan nada yang memang terlihat memperihantinkan melihat mereka yang berjalan jauh dari bukit-bukit menuju pasar kota menghidupi kehidupan yang diharapkan dapat merasuki jiwa pembaca sehingga pembaca juga merasakan apa yang dirasakan penyair dalam puisinya itu.

4.     Amanat (intention)
Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair dapat ditelaah setalah kita memahami
tema, rasa, dan nada puisi itu. Tujuan/amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun dan juga berada di balik tema yang diungkapkan. Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair  mungkin secara sadar berada dalam pikiran penyair, namun lebih banyak penyair yang tidak sadar akan amanat yang sering diberikan.
              Sesuai tema yang dikemukakan, ada puisi dengan tema ketuhanan, kemanusiaan, pendidikan, patirotisme, dan keadilan social, maka dapat disebutkan secara garis besar bahwa ada puisi yang mengandung amanat yang sesuai dengan tema yang dikehendaki. Tema berbeda dengan amanat. Tema berhubungan dengan arti karya sastra, sedangkan amanat berhubungan dengan makna karya sastra (meaning and significance). Arti karya sastra bersifat lugas, obyektif, dan khusus, sedangkan makna karya sastra bersifat kias, subyektif, dan umum. Makna berhubungan dengan orang perorangan, konsep seseorang, dan situasi di mana penyair mengimajinasikan karyanya. (hal in erat dengan perasaan dan nada yang diungkapkan penyair). Rumusan tema harus obyektif dan sama untuk semua pembaca puisi, namun amant sebuah puisi dapat bersifat interpretatif, artinya setiap orang mempunyai penafsiran makna yang berbeda dengan yang lain.
              Walaupun tafsiran tentang amanat puisi dapat bermacam-macam, namun dengan memahami dasar pandangan, filosofi, dan aliran yang dianut oleh pengarangnya, kita dapat memperkecil perbedaan itu.
              Tema kemanusiaan yang bernada filosofis seperti puisi “Perempuan-perempuan Perkasa” di atas itu, kira-kira dapat ditafsirkan mengandung amanat sebagai berikut: “Dalam kehidupan kita di dunia yang singkat ini, kita jangan hanya memikirkan tentang hari ini. Jangan hanya memikirkan kebutuhan fisik dan duniawi. Namun kita juga harus memikirkan darimana asal kita, ke mana kita akan pergi kelak, juga menghargai dan memikirkan mereka-mereka yang jauh dibawah kita dalam strata sosial, karena pada hakikatnya semua manusia sama. Dengan merenungkan hakekat dan tujuan hidup yang metafisik, kita akan lebih menyempurnakan diri kita dari hari ke hari. Kita tidak akan takabur dan mudah berpuas diri. Kita akan selalu melihat dunia luar yang sebenarnya jarang kita perhatikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar